Minggu, 21 Juni 2015

Murid si PEMATUNG

Alkisah.....di pinggir sebuah
kota, tinggal seorang seniman pematung yang
sangat terkenal di seantero negeri. Hasil
karyanya yang halus, indah, dan penuh
penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah
bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu.
Bahkan, di dalam istana kerajaan hingga taman
umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan
patung karya si seniman itu.

 Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat
memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat
dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan
belajar padanya. Bahkan, ia juga diizinkan untuk
tinggal di rumah si pematung. Sejak hari itu,
mulailah dia belajar dengan tekun: mengukur
ketepatan bahan adonan semen, membuat
rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan
mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis
benda yang akan dibuat patung, dan berbagai
kemampuan mematung lainnya.

Setelah belajar Sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab,
menurutnya, hasil patungnya belum bisa
menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun
kemudian menganalisa dengan saksama, lantas
memutuskan meminjam alat-alat yang biasa
dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan
sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan.
"Bolehkan saya meminjam alat-alat yang biasa
Bapak pakai untuk mematung? Saya ingin
mencoba membuat patung dengan memakai
alat-alat yang selalu dipakai guru agar hasilnya
bisa menyamai patung buatan Bapak." "Silakan
pakai, kamu tahu letak alat-alat itu kan? Ambil
saja dan pakailah," jawab sang guru sambil
tersenyum.

Selang beberapa hari, dengan wajah
lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata,
"Saya sudah berusaha dan berlatih dengan tekun
sesuai petunjuk Bapak, juga memakai alat-alat
yang biasa dipakai Bapak. Kenapa hasilnya tetap
tidak sebagus patung yang Bapak buat?" Sang
guru menjawab dengan lembut, "Bapak sudah
belajar dan berlatih membuat patung selama
puluhan tahun. Bapak mengamati benda-benda,
mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian
berusaha menuangkannya ke dalam karya seni
dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak
terhitung berapa kali kegagalan yang telah
dibuat, tapi tidak pernah pula Bapak berhenti
mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat bantu
canggih yang kamu butuhkan untuk menjadi
seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan
semangat untuk menekuninya yang harus kamu
punyai. Dengan begitu, lambat laun kamu akan
terlatih dan menjadi pematung yang baik."
"Terima kasih Pak, saya berjanji akan terus
berlatih, mohon bersabar mengajari saya."

Netter Yg Luar Biasa, Untuk menciptakan sebuah
maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan
talenta semata. Kita butuh proses belajar dan
ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan,
meski dibantu alat-alat secanggih apapun, hasil
yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada
tangan-tangan terampil dan terlatih yang
menggerakkannya.

Demikian pula dalam kehidupan ini, jika ingin meraih prestasi yang
gemilang, ada "harga" yang harus kita bayar!
Apapun bidang yang kita geluti, apapun talenta
yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus
dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya
hingga tercapai kesuksesan yang
membanggakan! Yakinlah Allah SWT mengiringi
setiap langkah kita dan berdoa-lah selalu.

Tidak ada komentar: