Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2018

Pesan Gus Dur untuk Baca Qur'an



kalau ngaji Qur'an itu yg sungguh-sungguh.
Sebab Qur'an itu kalau gak syafaat ya laknat.
Pilihannya ya cuma dua itu.
Qur'an itu hurufnya ada 4: ﻕ ﺭ ﺍ ﻥ .


Pertama qaf
sifatnya qalqalah, artinya guncang.
Setiap orang yg menempuh jalan untuk menjadi ahlul Quran akan di uji Gusti Allah dg cobaan2 yg menggonjang ganjingkan hidupnya.

Kedua ro'
sifatnya takrir, artinya mengulang-ulang.
Meskipun cobaan yg mendera jalanmu kelak akan mengguncang hidupmu, sekali kali jangan kau pernah berhenti membaca ,karena Quran itu harus selalu dibaca berulang-ulang meskipun sudah khatam.

Ketiga hamzah,
sifatnya syiddah berarti kuat.
Maksudnya, kamu harus benar-benar kuat menjaga Quranmu dg membaca dan membacanya lagi dan lagi meskipun hidupmu digonjang ganjingkan masalah yg tak sudah sudah. Sapa ngrumat keramut, sapa ngremeh keremet.

Dan yg terakhir nun,
sifatnya idzlaq, artinya ringan.
InsyaAllah, kalau kamu kuat dan Sabar atas sgala coba yg mengguncang jiwa raga, sembari mengistiqomahkan ngajimu dg terus menerus nderes Quran mu, hidup matimu akan ringan nduk, seringan mulutmu saat mengucapkan nun..

Kamis, 31 Mei 2018

Kisah Sebutir Nasi


Dalam perjalanan mencari ilmu, Guru Mulia Maulana Habib Lutfi Bin Yahya-Pekalongan berjumpa dengan seorang Kiai Sepuh. Romo Habib muda terheran-heran ketika menyaksikan akhlak kiai sepuh yang luar biasa. Yakni, ketika dhahar (makan), ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali.

"Kenapa harus diambil, Yai. Kan cuma nasi sebutir," ujar Romo Habib muda penasaran.
"Lho, jangan dilihat sebutir nasinya, Yik. Apa kamu bisa bikin nasi sebutir ini, bahkan seper seribu menir saja?"

Deg, terdiamlah Romo Habib muda. Kiai sepuh melanjutkan, "Ketahuilah, Yik. Pada saat kita makan nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Nasi itu namanya Sego Bin Beras Bin Gabah Al Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga hama hingga memanen ada jasa banyak sekali orang. Kemudian mengolah gabah menjadi beras, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Gusti Allah di sana."

"Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh, ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih banyak cadangan nasi. Itu bentuk dari takabur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabur. Selama jatuh tidak kotor dan tidak membawa mudlorot bagi kesehatan kita, ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita".

Romo Habib muda pun menyimak lebih dalam. "Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa: Allahumma bariklana (Ya Allah semoga Engkau memberkati Kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah semoga Engkau memberkatiKU), walaupun sedang makan sendirian."

"'Lana' itu maknanya untuk semuanya, mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji semuanya termaktub dalam doa tersebut. Jadi doa tersebut, merupakan ucapan syukur serta mendoakan semua orang yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan."

"Dan satu lagi, mengapa wong makan kok ada doa: waqina ‘adzaban nar (jagalah kami dari siksa neraka). Apa hubungan, makan kok dengan neraka? Kan gak nyambung."
"Inggih Yai. Kok bisa ya?" tanya Habib Luthfi muda, penasaran.

"Begini, Yik. Kita makan ini hanya wasilah. Yang memberi kenyang itu Gusti Allah. Kalau kita makan dan menganggap bahwa yang mengenyangkan kita adalah makanan yang kita makan, maka takutlah, itu akan menjatuhkan kita dalam kemusyrikan. Dosa terbesar bagi orang beriman."
"Astaghfirullahal ‘adhim..." batin Romo Habib muda, tidak menyangka maknanya sedalam itu.

“Bayangkan saja, Yik. Demikian juga jika kita makan dan minum tapi tidak dijadikan hilang rasa lapar dan terhapus dahaga kita karena tidak dikendaki Gusti Allah, apalah jadinya?”

Subhanalloh.....

Senin, 21 Mei 2018

PITUTUR LUHUR



Akte lahir...adalah kertas
Ijazah...juga kertas
Akte nikah...kertas
Paspor...kertas
Surat kepemilikan rumah...juga kertas
UANG...juga kertas
Kehidupan kita layaknya hanya dikelilingi kertas-kertas.

Seiring waktu berlalu, dirobek
Kemudian dibuang dan dibakar
Berapa banyak orang bersedih karena "kertas-kertas" yg dimilikinya.
dan berapa banyak orang begitu bahagia dengan "kertas-kertas" yg dimilikinya.

Tetapi...
Ada 1 (satu) lembar kertas yg tidak mungkin dilihat oleh manusia itu sendiri yaitu, "AKTE KEMATIAN"nya sendiri!
Maka manusia itu ada batasnya yg tak mungkin dia mampu menjangkau waktu.

Ada 2 (dua) hal yg tidak akan selamanya ada dalam diri seseorang :
~Masa Mudanya
dan
~Kekuatannya.

dan 2 (dua) hal yg berguna untuk setiap orang:
~Hati yg mulia
dan
~Hati yg mengampuni.

juga 2 (dua) hal pula yg akan mengangkat derajat seseorang :
~Sikap rendah hati
dan
~Berbagi kasih.

Belajarlah punya prinsip hidup
Ada 3 (tiga) fase hidup yg tampak dari kita:
1. Masa puber kita punya waktu dan kekuatan tetapi tidak punya "UANG".
2. Masa bekerja kita punya uang dan kekuatan, tetapi tidak punya "WAKTU".
3. Masa tua kita punya uang dan punya waktu, tetapi tidak punya "KEKUATAN" lagi.

Manfaatkan kesempatan hidup sebaik-baiknya selagi masih bisa bernapas.
Kita selalu yakin bahwa kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita.
Dan orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita jauh lebih baik darinya.
Hal itu terjadi dikarenakan kita melupakan 1 (satu) hal terpenting dalam hidup, yaitu:
Bersikap "MENSYUKURI APA YANG SUDAH KITA MILIKI ".


Oleh sebab itu...
Nikmati hidup, sebelum hidup tidak bisa di nikmati.
Dan selalu bersyukur atas segala nikmat & karunia hidup.

Tidak capek pun perlu istirahat,
Tidak kaya pun perlu bersyukur.
Sadarlah hidup itu pendek,
Pasti ada saatnya finish.
Jangan tertipu dengan usia muda,
Karena syarat mati tidak harus tua.
Jangan terpedaya dengan tubuh & badan sehat,
Karena syarat mati tidak mesti sakit.

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasehat baik.
Teruslah berbagi dalam kebaikan meskipun tidak banyak orang yang bisa memahimu.
Kebaikan akan membawa kebahagiaan,
Kebahagiaan akan membawa berkah.
Keburukan akan membawa malapetaka,
Malapetaka akan membawa penderitaan.

Kamis, 13 Juli 2017

TUKANG BANGUNAN


Alkisah Seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya
bekerja ikut pemborong.
.
Iapun bermaksud mengajukan pensiun
karena ingin memiliki banyak waktu
untuk keluarganya.
.
Si Pemborong berkata,
"Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu
satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun.
.
Si tukang bangunan segera membangunnya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi.
.
Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat..
Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong.
.
Sang Pemborong pun tersenyum dan berkata,
"Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."
.
Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal kenapa rumah, yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan..
.


Hikmah cerita diatas adalah :
Ibadah yang kita kerjakan
di dunia ini, tak lain adalah 'rumah' yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia.
Jangan sampai kelak kita menyesal
karena kita menempati rumah yang kita bangun asal-asalan.

Senin, 13 Maret 2017

si Monyet dan Angin


Seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa.Dia nggak sadar sedang diintip oleh tiga angin besar.*Angin Topan, Tornado dan Bahorok*.Tiga angin itu rupanya pada ngomongin,siapa yg bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.

*Angin Topan* bilang,dia cuma perlu waktu 45 detik.
*Angin Tornado* nggak mau kalah, 30 detik, katanya.
*Angin Bahorok* senyum ngeledek dan bilang,15 detik juga jatuh tuh monyet.

Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.Angin *TOPAN* duluan,… dia tiup sekencang-kencangnya, Wuuusss…Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung pegang batang pohon kelapa, Dia pegang sekuat-kuatnya.Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh si monyet. Angin Topan pun nyerah.

Giliran Angin *TORNADO.* Wuuusss… Wuuusss…Dia tiup sekencang-kencangnya. Nggak jatuh juga tuh monyet.Angin Tornado juga nyerah.

Terakhir, Angin *BAHOROK*. Lebih kencang lagi dia tiup.Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kencang pegangannya.Nggak jatuh-jatuh.Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin,si monyet memang jagoan. Tangguh.Daya tahannya luar biasa.

Nggak lama, datang *angin SEPOI-SEPOI*..Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan itu diketawain sama tiga angin lainnya. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.

Nggak banyak omong, angin *SEPOI-SEPOI* langsung meniup ubun-ubun si monyet. Psssss…Enak banget. *Adem*… *Seger*… *Riyep-riyep* matanya si monyet. Nggak lama *ketiduran* dia terus lepas lah pegangannya. Alhasil, jatuh deh tuh si monyet.


*PESAN MORAL* :

Boleh jadi ketika kita Diuji dengan *KESUSAHAN*…Dicoba dengan *PENDERITAAN*…Didera *MALAPETAKA*… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya…Tapi jika kita diuji dengan *KENIKMATAN… KESENANGAN… KELIMPAHAN… KEKAYAAN... KEKUASAAN...*Disinilah *” KEJATUHAN ”* itu terjadi.
Jangan sampai kita terlena…terbuai..Tetap*”Rendah hati”,**“Mawas diri”*,*“Sederhana”*,*"Berbuat Amal"*Karena bukan *KRITIKAN* yang membuat anda*"JATUH"* tapi *sanjungan & pujian.*

Sabtu, 25 Februari 2017

~ S I M B O K ~


"Mbok, kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dengan mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini.  Ada nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar, dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu-kayu bakar di tungku, simbok menjawab, "Hambok yo ben toooo...".

"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku.

"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem.

Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen.
"Lhaa itu?, tiap hari kan yo cuma simbok bagi-bagiin ke tetangga-tetangga tho?,Orang-orang yg lewat mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.

"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang.."

"Sodakoh kok mben dino?! Koyo sing wes sugih-sugih o wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.

"Ukuran sugih ki opo to, Le ?"

 Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu.
"Hayo turah-turah leh duwe opo-opo. Ngono sampean ndadak tekon!"

"Lha aku lak yo duwe panganan turah-turah tho?  Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...". Tangannya yang legam dengan kulit yang makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku.

Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera untuk berdebat.

"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan bandha brana. Nek nunggu bandhamu mlumpuk lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi iklas. Simbokmu iki sugih, le, mben dino duwe pangan turah-turah, dadi iso aweh, tur kudu aweh. Perkoro simbokmu iki ora duwe bandha brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti Allah, ingatase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.

"Iyo, iyooooo mbok.."

"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh sabendino?"

"He eh."

"Ngene, Le, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi-wengi ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngonokuwi, le. Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng paran omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh ndak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang.. Paham?"

Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.
Ah, simbok. Perempuan yang nggak pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dengan caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yang bangga belajar kapitalisme dengan segala hitung-hitungan untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bahwa ada Tuhan yang menjamin hidup setiap mahluk yang bernyawa.

Simbokku benar: sugih itu kemampuan hati untuk memberi untuk liyan (orang lain), bukan soal mengumpulkan untuk diri sendiri.

Jumat, 24 Februari 2017

Perpendek Garis


Seorang Guru membuat garis sepanjang 10 cm di atas papan tulis, lalu berkata : "Anak-anak coba perpendek garis ini!".

Anak pertama maju kedepan, ia menghapus 2 cm dari garis itu, sekarang menjadi 8 cm.

Pak Guru mempersilakan anak ke 2. Ia pun melakukan hal yang sama, 'sekarang' garisnya tinggal 6 cm.

Anak ke 3 & ke 4 pun maju kedepan, sekarang garis itu tinggal 2 cm.

Terakhir, anak yang Bijak maju kedepan, ia membuat garis yang lebih panjang, sejajar dengan garis pertama, yang tinggal 2 cm itu.

Sang Guru menepuk bahunya,"Kau memang bijak. Untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya - cukup membuat garis yang lebih panjang. Garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya."

Hikmah dari cerita di atas :
*Untuk memenangkan Tak perlu mengecilkan yang lain, Tak usah menjelekan yang lain, karena secara tak langsung, membicarakan kejelekan yang lain adalah cara tak jujur utk memuji diri sendiri. Cukup lakukan kebaikan terbaik yang dapat kita lakukan untuk semuanya, biarkan waktu akan membuktikan kebaikan tersebut.*

Kamis, 11 Agustus 2016

Hikmah Matematika


Matematika adalah pelajaran anak TK sampai menjadi tua...
1) Mengapa PLUS dikali PLUS hasilnya PLUS?
2) Mengapa MINUS dikali PLUS atau sebaliknya PLUS dikali MINUS hasilnya MINUS?
3) Mengapa MINUS dikali MINUS hasilnya PLUS?

Hikmahnya adalah:
(+) PLUS = BENAR
(-) MINUS = SALAH

1. Mengatakan BENAR thd sesuatu hal yang BENAR adalah suatu tindakan yang BENAR. Rumus  + x + = +
2. Mengatakan BENAR thd sesuatu yang SALAH, atau sebaliknya mengatakan SALAH thd sesuatu yang BENAR adalah suatu tindakan yang SALAH.
Rumus matematikanya:
+ x – = -
– x + = -
3. Mengatakan SALAH thd sesuatu yg SALAH adalah suatu tindakan yang BENAR. Rumus matematikanya: – x – = +

Pelajaran matematika ternyata sarat makna.
Kebenarannya pasti/exact, yg bs kita ambil sebagai Pelajaran Hidup.

Untuk matematika pembagian, adalah sbb:
1 ÷ 1 = 1
1 ÷ 2 = 1/2
1 ÷ 10 = 1/10
1 ÷ 100 = 1/100
Sedangkan 1 ÷ 0 = ~ ( tak terhingga).

Maknanya adalah: Kalau kita melakukan perbuatan baik, spt sedekah misalnya, kemudian kita mengharapkan balasan atas perbuatan itu, mk semakin kita banyak berharap hasilnya akan semakin kecil (1/100 dst).
Tetapi ketika kita melakukannya dgn Ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apa pun atau 1 ÷ 0, maka hasilnya akan "Tak Terhingga" yang artinya Tuhan akan memberikan balasan atas keikhlasan kita dengan balasan yang tak terhingga (Penuh Keberkahan)

✔Tatkala engkau memperbaiki niatmu, saat itulah Tuhan memperbaiki keadaanmu
✔Ketika engkau menginginkan kebaikan utk org lain, maka kebaikan itu datang kepadamu dari arah yang tidak engkau kira
✔Di saat kita hidup untuk membuat orang lain bahagia, Tuhan menjadikan orang lain membahagiakan kita
✔Maka carilah selalu celah untuk "memberi", bukan "mengambil"
✔Setiap kali engkau memberi maka di saat itulah engkau diberi (oleh Tuhan) tanpa engkau meminta.Bukan lagi TAKE and GIVE, tetapi belajarlah utk just GIVE...

Semoga bermanfaat.

Senin, 20 Juni 2016

ULAR yang PeMARAH



Alkisah,
Seekor ular memasuki gudang tempat kerja tukang kayu di sore hari.
Kebiasaan si tukang kayu, membiarkan sebagian peralatan kerjanya masih berserakan dan tidak merapikannya.
Nah ketika ular itu berjalan kesana kemari di dalam gudang, tanpa sengaja ia merayap di atas gergaji.
Tajamnya mata gergaji, menyebabkan perut ular terluka.
Tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya.
Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali.
Serangan itu menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.

Marah & putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya.
Ia pun membelit kuat gergaji itu.
Maka tubuhnya terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati..

Hikmah dari cerita ini :
Kadangkala, di saat kita marah, kita ingin melukai orang lain.
Tapi sesungguhnya tanpa disadari, yang dilukai adalah diri kita sendiri.
Mengapa?
Karena perkataan dan perbuatan di saat marah adalah perkataan dan perbuatan yang biasanya akan kita sesali di kemudian hari..
Mari, kita sama-sama belajar untuk tidak marah (atau setidaknya mampu meredakan marah) terhadap situasi buruk yang mungkin kita alami.

Sabtu, 01 Agustus 2015

KISAH TIGA KARUNG BERAS










Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.

Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik.
Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".
Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut.

Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah.

Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama".
Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya" .
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali ke kampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku......

Pesan moral cerita ini:
Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya.

Selasa, 30 Juni 2015

Katak dan siput














Ada seekor siput selalu memandang sinis
terhadap katak. Suatu hari, katak yang
kehilangan kesabaran akhirnya berkata
kepada siput: “Tuan siput, apakah saya telah
melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu
membenci saya?”

Siput menjawab: “Kalian kaum katak
mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke
sana ke mari, Tapi saya mesti membawa
cangkang yang berat ini, merangkak di tanah,
jadi saya merasa sangat sedih.”

Katak menjawab: “Setiap kehidupan memiliki
penderitaannya masing-masing, hanya saja
kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi
kamu tidak melihat penderitaan kami
(katak).”

Dan seketika, ada seekor elang besar yang
terbang ke arah mereka, siput dengan cepat
memasukan badannya ke dalam cangkang,
sedangkan katak dimangsa oleh elang.

Hikmah yang dapat diambil :
Nikmatilah kehidupanmu, tidak perlu
dibandingkan dengan orang lain. keirian hati
kita terhadap orang lain akan membawa lebih
banyak penderitaan. Lebih baik pikirkanlah
apa yang kita miliki. Hal tersebut akan
membawakan lebih banyak rasa syukur dan
kebahagiaan bagi kita sendiri.

Senin, 29 Juni 2015

MANUSIA SEPERTI SEBUAH BUKU



~ Manusia Ibarat Seperti Sebuah Buku ~.

► COVER DEPAN adalah TANGGAL LAHIR.
► COVER BELAKANG adalah TANGGAL
KEMATIAN.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup
kita dan apa yang kita lakukan.
→ Ada buku yang TEBAL.
→ Ada buku yang TIPIS.
→ Ada buku yang menarik dibaca.
→ Ada yang sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’EDIT’
lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman
sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya
yang putih bersih, baru dan tiada cacat. Sama
dengan hidup kita, seburuk apapun kelmarin,
Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk
kita.

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk
melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita
setiap harinya. Kita selalu boleh memperbaiki
kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita
kedepannya sampai saat usia berakhir, yang
sudah ditetapkan-NYA.

♥ Terima kasih Ya Allah untuk hari yang baru
ini…
♥ Syukuri hari ini… dan isilah halaman buku
kehidupan kita dengan hal2 yang baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu bertanya
kepada Allah, tentang apa yang harus ditulis tiap
harinya. Supaya pada saat halaman terakhir
buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini
sebagai peribadi yang berkenan kepada-NYA.
Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan
teladan bagi anak2 kita dan siapapun setelah kita
nanti.

# Selamat menulis di buku kehidupan kita.
Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang,
serta pena kebijaksanaan.

# # Aku berdoa dan berharap : ''Agar Allah
selalu menyertai setiap langkahmu''… kerana
Allah tidak pernah menjanjikan bahawa LANGIT
itu selalu BIRU, BUNGA selalu MEKAR dan
MENTARI selalu BERSINAR...

# # # Tapi ketahuilah bahawa Dia selalu memberi
PELANGI di setiap BADAI, SENYUM di setiap AIR
MATA, BERKAH di setiap CUBAAN dan
JAWAPAN di setiap DO'A...

Senin, 22 Juni 2015

uang 1000 dan 100 000

Uang Rp 100,000 bertanya kepada Rp 1,000 ;
"Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan
berbau amis?"

Rp 1,000 menjawab;
"Karena begitu aku keluar dari bank, terus ke
tangan orang bawah dari kalangan buruh,
penjaja, penjual ikan dan di tangan pengemis."

Lalu Rp 1,000 bertanya balik kepada Rp
100,000;
"Kenapa kau begitu baru, rapi dan masih
bersih?"

Rp 100,000 menjawab;
"Karena begitu aku keluar dari bank, terus
disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun
di restoran mahal, di kompleks pasar raya mall
bergengsi dan juga hotel berbintang serta
keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar
dari dompet."

Lalu Rp 1,000 bertanya lagi;
"Pernahkah engkau berada di tempat ibadah?"

Rp 100,000 menjawab;
"Belum pernah"

Rp 1,000 pun berkata lagi;
"Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1,000 tetapi
aku selalu berada di seluruh tempat ibadah, dan
di tangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin
bahkan aku bersyukur kepada Tuhan semesta
alam. Aku tidak dipandang sebagai sebuah nilai,
tetapi adalah sebuah manfaat.

Lantas menangislah Rp 100,000 karena merasa
besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu
bermanfaat selama ini.

Minggu, 21 Juni 2015

Murid si PEMATUNG

Alkisah.....di pinggir sebuah
kota, tinggal seorang seniman pematung yang
sangat terkenal di seantero negeri. Hasil
karyanya yang halus, indah, dan penuh
penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah
bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu.
Bahkan, di dalam istana kerajaan hingga taman
umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan
patung karya si seniman itu.

 Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat
memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat
dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan
belajar padanya. Bahkan, ia juga diizinkan untuk
tinggal di rumah si pematung. Sejak hari itu,
mulailah dia belajar dengan tekun: mengukur
ketepatan bahan adonan semen, membuat
rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan
mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis
benda yang akan dibuat patung, dan berbagai
kemampuan mematung lainnya.

Setelah belajar Sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab,
menurutnya, hasil patungnya belum bisa
menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun
kemudian menganalisa dengan saksama, lantas
memutuskan meminjam alat-alat yang biasa
dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan
sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan.
"Bolehkan saya meminjam alat-alat yang biasa
Bapak pakai untuk mematung? Saya ingin
mencoba membuat patung dengan memakai
alat-alat yang selalu dipakai guru agar hasilnya
bisa menyamai patung buatan Bapak." "Silakan
pakai, kamu tahu letak alat-alat itu kan? Ambil
saja dan pakailah," jawab sang guru sambil
tersenyum.

Selang beberapa hari, dengan wajah
lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata,
"Saya sudah berusaha dan berlatih dengan tekun
sesuai petunjuk Bapak, juga memakai alat-alat
yang biasa dipakai Bapak. Kenapa hasilnya tetap
tidak sebagus patung yang Bapak buat?" Sang
guru menjawab dengan lembut, "Bapak sudah
belajar dan berlatih membuat patung selama
puluhan tahun. Bapak mengamati benda-benda,
mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian
berusaha menuangkannya ke dalam karya seni
dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak
terhitung berapa kali kegagalan yang telah
dibuat, tapi tidak pernah pula Bapak berhenti
mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat bantu
canggih yang kamu butuhkan untuk menjadi
seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan
semangat untuk menekuninya yang harus kamu
punyai. Dengan begitu, lambat laun kamu akan
terlatih dan menjadi pematung yang baik."
"Terima kasih Pak, saya berjanji akan terus
berlatih, mohon bersabar mengajari saya."

Netter Yg Luar Biasa, Untuk menciptakan sebuah
maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan
talenta semata. Kita butuh proses belajar dan
ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan,
meski dibantu alat-alat secanggih apapun, hasil
yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada
tangan-tangan terampil dan terlatih yang
menggerakkannya.

Demikian pula dalam kehidupan ini, jika ingin meraih prestasi yang
gemilang, ada "harga" yang harus kita bayar!
Apapun bidang yang kita geluti, apapun talenta
yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus
dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya
hingga tercapai kesuksesan yang
membanggakan! Yakinlah Allah SWT mengiringi
setiap langkah kita dan berdoa-lah selalu.

Sabtu, 20 Juni 2015

PENYESALAN SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA



―――――――――――― Pada
suatu hari, Seorang Anak berkata pada ibunya :

―――――――――――――" Ibu, aku malu sama
teman- temanku, mereka memiliki ibu yang
sempurna secara fisik dan mereka bangga
terhadap ibu mereka, ―――――――――――――
tapi aku bu, mengapa aku memiliki ibu yang
buta. Andai saja aku tau, aku dilahirkan oleh
seorang ibu yang buta, maka aku lebih memilih
untuk tidak dilahirkan”

――――――――――――― Mendengar kata-kata
yang keluar dari mulut anaknya,
――――――――――――― sang ibu berkata :
“Nak, ibu memang buta, tetapi walaupun kamu
malu dengan keadaan fisik yang ibu miliki, ibu
tetap sayang padamu nak.."

――――――――――――― Anak menjawab : “
Bu, semua teman-temanku selalu menghinaku,
bahkan tidak ada satu perempuan pun yang suka
padaku karena melihat fisik ibu yang tidak
sempurna. ――――――――――――― Mereka
takut jika kelak menikah denganku anak kami
juga akan cacat, buta seperti ibu ”.

――――――――――――― Mendengar perkataan
anaknya, Sang ibu begitu terpukul dan menangis,
――――――――――――― namun demikian
Sang Ibu tetap sayang pada anaknya. tak henti-
hentinya ibu itu berdo’a untuk anaknya.

――――――――――――― Detik berganti menit,
menit berganti jam, jam berganti hari,
――――――――――――― akhirnya Si Anak
menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Teknik.

――――――――――――― Betapa bangganya
hati Sang ibu mendengar anaknya akan diwisuda
dan menjadi seorang Insinyur, tak sia-sia
pengorbanannya selama ini dengan berjualan di
pasar untuk menyekolahkan Si Anak,

――――――――――――― tak kenal lelah Sang
ibu bekerja walaupun dalam keadaan matanya
yang buta. Sampailah saat yang ditunggu- tunggu
, ――――――――――――― saat Anaknya dan
yang lainnya akan diwisuda. Teman-teman
berserta orang tuanya dan keluarga berkumpul
menantikan acara dimulai,

――――――――――――― tetapi Sang ibu sama
sekali tidak diajak Anaknya untuk menghadiri
wisuda tersebut. ―――――――――――――
Akhirnya Sang ibu datang sendiri keacara
tersebut, ―――――――――――――

sesampainya ditempat Anaknya akan diwisuda,
betapa bahagianya hati sang ibu mendengar
nama anaknya dipanggil kedepan dengan nilai
terbaik.

――――――――――――― Namun si
Anak sangat malu terhadap teman-teman dan
kekasihnya ketika mengetahui ibunya juga hadir
di acara wisuda itu, ――――――― acara yang
seharusnya menurut si Anak membuatnya
bahagia. Pada saat itu,

――――――――――――― sang ibu mendekati
Si anak sambil meraba-raba wajah anaknya, lalu
kekasih Si anak bertanya pada: dia “ Siapa
perempuan buta itu ?"
――――――――――――― si Anak tidak
menjawab dan hanya diam membisu.

――――――――――――― Akhirnya sang ibu
berkata bahwa dia adalah ibunya. mendengar
ibunya berkata demikian,
――――――――――――― Si Anak akhirnya
pulang sebelum acara selesai dan meninggalkan
ibunya sendirian. ―――――――――――――

Setelah acara selesai akhirnya sang ibu juga
pulang kerumah tanpa anaknya.
――――――――――――― Namun siapa yang
tau kapan ajal akan tiba,
――――――――――――― ketika hendak
menyebrang jalan sang ibu meninggal dunia.

――――――――――――― Betapa terkejutnya sh
Anak ketika pihak rumah sakit mengabarkan
bahwa beberapa menit yang lalu ibunya telah
meninggal akibat kecelakaan.

――――――――――――― Dan petugas
kepolisian memberikan tas yang dibawa ibunya
pada saat menghadiri wisuda,
――――――――――――― si Anak hanya diam
duduk menunggu ibunya yang masih dibersihkan
dari sisa-sisa darah yang masih menempel di
tubunya.

――――――――――――― Pada saat
menunggu jenazah ibunya, si Anak membuka tas
kesayangan ibunya yang lusuh dan kumal itu.
――――――――――――― Disana terdapat foto
Sang ibu ketika mengandungnya, dan betapa
terkejutnya Si Anak ketika membaca sepucuk
surat yang begitu lusuh yang terdapat didalam
tas ibunya.

――――――――――――― Si Anak
membaca surat tersebut, dan didalam surat itu
tertulis : “ ―――――――――――――
Banjarmasin, 12 Oktober 1984,
 Anakku yang
sangat kucintai, bayi mungilku yang sangat
kusayangi, betapa kau sangat berharga dihati ibu
nak. ――――――――――――― Walaupun kau
buta dari lahir tetapi ibu sangat menyayangimu,
――――――――――――― kaulah anugrah
terindah yang ibu miliki. Nak,
――――――――――――― ini adalah surat
terakhir yang ibu tulis, karena besok ibu sudah
tidak bisa lagi menuliskan kata-kata diatas
kertas. ――――――――――――― Karena besok
ibu akan mendonorkan kedua mata ibu untukmu
nak, ――――――――――――― agar kelak kau
dapat melihat dan menikmati indahnya dunia,
anugrah yang diberikan ALLAH.
―――――― Nak
suatu saat jika ibu sudah tiada dan kau ingin
melihat ibu, berkacalah nak, ≈karena dimatamu
ada ibu yang selalu menemanimu ”.

――――――――――――― Airmata Si Anak pun
mengalir deras, ia menyesal karena sudah
terlambat bagi dirinya untuk membahagiakan
ibunya. Si Anak teringat dengan semua
perbuatan yang ia lakukan terhadap ibunya,

――――――――――――― dia hanya duduk
terdiam tersimpuh di depan kaki ibunya yang
telah terbujur kaku. ―――――――――――――
Semua telah terjadi dan kini ibunya telah pergi
untuk selama-lamanya.


――――――――――――― “dalam hal ini
mengajarkan betapa besar kasih sayang seorang
ibu terhadap anaknya, tanpa mengharapkan
balasan. ――――――――――――― Ibu selalu
dengan ikhlas memberikan apapun yang
dimilikinya termasuk jiwanya sendiri “

――――――――――――― Buat Teman-teman
yang sudah membaca cerita ini, Bahagiakanlah
ibu mu selagi dia masih Hidup meskipun ada
kekurangan dalam Hidupnya , jangan biar kan Ibu
mu meneteskan air Mata karna Ulah mu

――――――――――――― Semoga bermanfaat

Kamis, 11 Juni 2015

cerita renungan USTAD SAYA BOSAN HIDUP, INGIN MATI SAJA

sebuah cerita renungan, dgn judul .... USTAD,
SAYA BOSAN HIDUP, INGIN MATI SAJA ....
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ....

Seorang pria
setengah baya mendatangi seorang guru ngaji,
“Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh
betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha
saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu
berantakan. Saya ingin mati.” Sang Ustad pun
tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Ustad, saya
tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan
kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya,
sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan
penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya,
kamu alergi terhadap kehidupan.” Banyak sekali
di antara kita yang alergi terhadap kehidupan.
Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal
yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan
mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-
quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita
mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan
kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan
membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti
ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-
tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang
wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu
langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng,
yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari
sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan
suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa
dan menderita. “Penyakitmu itu bisa
disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan
bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar
sang Ustad. “Tidak Ustad, tidak. Saya sudah
betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.”
pria itu menolak tawaran sang Ustad. “Jadi kamu
tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin
mati?” “Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah
botol obat ini. Setengah botol diminum malam
ini, setengah botol lagi besok sore jam enam,
dan jam delapan malam kau akan mati dengan
tenang.” Giliran dia menjadi bingung.

Setiap
Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya
untuk memberikannya semangat untuk hidup.
Tapi ustadz yang satu ini aneh. malah Ia bahkan
menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang
sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan
senang hati. Pulang kerumah, ia langsung
menghabiskan setengah botol racun yang disebut
“obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan
ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan
sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal
1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan
terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam
itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama
keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu
yang sudah tidak pernah ia lakukan selama
beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam
terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya
santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir
istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang,
aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah
malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan
manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka
jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin
pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda
untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah
setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya
masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia
masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu
untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena
pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin
meninggalkan kenangan manis! Sang istripun
merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari
ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku,
mas.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang,
bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun
bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan
sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun
menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang
terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah.
Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan
apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang
berbeda. Tiba- tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore,
ia menemukan istri tercinta menungguinya di
beranda depan. Kali ini justru sang istri yang
memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi
aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu
merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin
ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua.
Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku
kami semua.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya
mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi
sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk
bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah
botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? ”
Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku.
Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali
jika aku harus meninggalkan dunia ini “. Ia pun
buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah
memberi racun kepadanya. Sesampainya
dirumah ustad tersebut, pria itu langsung
mengatakan bahwa ia akan membatalkan
kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus
kembali kehilangan semua hal yang telah
membuat dia menjadi hidup kembali.

 Melihat
wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung
mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad
pun berkata “Buang saja botol itu. Isinya air
biasa kok.. Kau sudah sembuh, Apa bila kau
hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup
dengan kesadaran bahwa maut dapat
menjemputmu kapan saja, maka kau akan
menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan
egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.
Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah
bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan
jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan.
Itulah kunci
kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.
percayalah .. Allah bersama kita.” lalu Pria itu
mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang
Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi
pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya
dunia ini……

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Salam Terkasih .. Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati
kita yang telah lama terkunci ...